Senin, 21 Juni 2010

Metode Pemberian Obat Pada Ternak

Pemberian obat pada ternak dapat dilakukan dengan beberapa cara sesuai dengan tujuan dan jenis obat yang yang diberikan pada ternak.
Pembahasan saya kali ini mengenai pemberian obat dengan sistem Injection/suntik. Injection/penyuntikan adalah suatu metode/cara memasukkan obat-obatan pada tubuh ternak dengan tujuan untuk memberikan tindakan pengobatan/pencegahan dan vaksinasi agar lebih cepat mencapai sasaran yang diinginkan. Keuntungan pengobatan dengan sistem injection/suntik adalah obat langsung mencapai sasaran pada daerah yang mengalami sakit/sasaran yang ingin dicapai sesuai dengan tujuan injection itu dilakukan, efisiensi penggunaan obat karena kemungkinan untuk terbuang sedikit sekali. Kekurangan sistem ini adalah, apabila dilakukan oleh tenaga yang tidak profesional/tidak memahami bagaimana teknik menyuntik yang baik dan sesuai dengan aturan ilmu kesehatan, alat suntik yang tidak steril dapat menyebabkan penularan penyakit tertentu dengan lebih cepat sehingga diperlukan alat suntik yang benar-benar steril sebelum melakukan penyuntikan. 
Metode Penyuntikan pada intinya sebagai berikut.
  1. Injektion Intra Musculer (Obat dimasukkan kedalam tubuh ternak melalui otot tubuh).
  2. Injection Intra Cutan ( Pemberian obat melalui penyuntikan didalam rongga kulit/Intra dermal)
  3. Injection Intra Vena ( Pemberian obat melalui pembuluh darah)
  4. Injection Sub Cutan ( Pemberian obat dibawah rongga kulit/sub cutan)
  5. Injection Intra Mamae (Pemberian obat melalui lubang puting susu)
  6. dan metode-metode lain sesuai dengan tujuan dan lokasi penyuntikan dengan penamaan..Didalam/bawah.....lokasi penyuntikan.

Sabtu, 19 Juni 2010

Manajemen Biaya Produksi Kesehatan Ternak

Komponen biaya produksi biaya pencegahan dan pengobatan penyakit sekitar 6% dari total biaya produksi, tetapi dampak yang ditimbulkannya pada saat akan panen produksinya dapat berpengaruh mencapai 60% bahkan hingga 80%. Oleh karena itu, manajemen kesehatan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam sistem usaha ternak.

Kerugian-kerugian ekonomi akibat ketidakfahaman manajemen kesehatan ternak meliputi :

(a) gangguan pertumbuhan (pertambahan bobot badan harian rendah)

(b) dewasa kelamin atau umur beranak pertama terlambat

(c) daya reproduksi terganggu

(d) efisiensi pakan rendah, dan

(e) kematian ternak.

Di dalam ilmu kesehatan selalu ada keterikatan antara 3 faktor yaitu tubuh (ternak), agen penyakit (mikroorganisme dan parasit), dan lingkungan (pemelihara, ternak lainnya, makan dan minuman, kandang, dan iklim). Apabila ketiga faktor tersebut dalam posisi seimbang maka tubuh (hewan) tersebut dikatakan sehat (tidak menunjukkan gejala sakit). Jadi sehat itu bukan berarti di dalam tubuhnya tidak ada penyakit, tetapi tubuh (pertahanan tubuh) mampu menetralisir penyakit tersebut sehingga tidak menunjukkan gejala penyakit. Gangguan atau perubahan pada salah satu faktor di atas akan menimbulkan gejala suatu penyakit, sehingga akan terjadi sakit. Dari ketiga faktor tersebut yang paling penting adalah pengendalian faktor lingkungan, karena perubahan lingkungan ke arah yang buruk akan meningkatkan kuantitas dan kualitas penyakit serta penurunan ketahanan tubuh.

Jumlah atau daya infeksi yang meningkat dari sebuah penyakit, sedangkan kondisi tubuh tetap, akan menimbulkan gejala penyakit karena pertahanan tubuh tersebut tidak mampu melawan peningkatan kuantitas dan kualitas penyakit. Sebaliknya, meskipun jumlah penyakit tidak meningkat tetapi pertahanan tubuh menurun, juga akan menimbulkan munculnya gejala penyakit. Peningkatan jumlah dan kekuatan penyakit serta penurunan pertahanan/kekebalan tubuh sangat dipengaruhi oleh lingkungan. Lingkungan yang kotor akan memudahkan peningkatan jumlah bibit penyakit. Perubahan iklim, perubahan tempat tinggal, dan adanya rangsangan dari luar akan menyebabkan hewan stress yang menyebabkan hewan mengalami penurunan ketahanan tubuh. Kondisi tersebut akan menyebabkan hewan sakit.

Dari pengertian di atas kita dapat menyimpulkan bahwa manajemen dan pengendalian kandang, orang yang berinteraksi (seperti pegawai kandang atau pemilik), hewan lain yang ada di kandang, pakan dan minuman, serta iklim merupakan langkah penting dalam pengendalian kesehatan ternak. Tindakan pengendalian faktor lingkungan biasa disebut dengan istilah biosecurity.

Sebuah contoh kasus pertanyaan tentang kembung bisa kita bahas secara singkat. Kita asumsikan bahwa dalam hal penanganan ternak yang kembung semua peternak sudah mampu menangani. Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah bagaimana pencegahan kembung. Seperti penjelasan di atas bahwa jika menemukan satu kasus penyakit maka kita harus menelusurinya dari ketiga faktor di atas, yaitu : tubuh (ternak), penyakit, dan lingkungan.

Sebagai mana kita ketahui bahwa kembung adalah sebuah gangguan metabolisme di dalam tubuh, yaitu kelebihan gas di dalam lambung. Jika kita berbicara gangguan metabolisme berarti yang paling berpengaruh adalah makanan (lingkungan). Jadi yang perlu ditelusuri adalah lingkungan dalam hal ini makanan. Apa yang dimakan ternak sebelum terjadi kembung? Ada bahan apa di dalam makanan yang menyebabkan kembung? Pada kondisi bagaimana bahan tersebut bisa muncul? Bagaimana perlakuan kita terhadap makanan agar bahan penyebab kembung tersebut hilang atau berkurang sehingga tidak menyebabkan kembung?.

Pertanyaan-pertanyaan di atas akan menuntun kita melakukan langkah-langkah pencegahan. Misalnya yang dimakan ternak adalah rumput atau hijauan. Bahan yang ada di dalam hijauan yang menyebabkan kembung adalah gas. Gas tersebut akan diproduksi dalam jumlah banyak apabila hijauan masih berumur muda dan kandungan airnya tinggi atau hijauan dalam keadaan basah. Kandungan air yang tinggi akan memproduksi gas dalam jumlah banyak sehingga gas di dalam lambung meningkat dari kapasitas normalnya. Ada juga hijauan yang mengandung gas berbahaya tertentu seperti gas sianida pada daun singkong. Untuk mengurangi gas berarti harus mengurangi kadar air atau mengurangi kandungan gas berbahaya.

Langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi atau menghilangkan gas penyebab kembung adalah tidak memberikan langsung hijauan yang basah atau mengandung gas tertentu. Cara mengurangi atau menghilangkan gas tersebut bisa dengan cara dilayukan (dijemur) sampai kering agar kadar airnya menurun. Bisa juga dengan cara mencacah atau memotong-motong hijauan yang akan diberikan. Dengan langkah tersebut air atau gas berbahaya akan menguap dan berkurang, yang pada akhirnya akan mengurangi penimbunan gas di dalam lambung. Dengan langkah tersebut akan terhindar dari kemungkinan terjadinya kembung karena gas yang ada di lambung masih dalam tingkat kemampuan lambung untuk menampungnya dan akan dikeluarkan secara alami sedikit-demi sedekit.

Contoh tersebut bisa diterapkan pada kasus-kasus penyakit lainnya, baik penyakit infeksius (yang disebabkan oleh mikroorganisme) atau penyakit gangguan metabolisme. Jika penyakit infeksius yang terjadi, maka lingkungan yang perlu ditelusuri adalah kondisi lingkungan yang bisa menurunkan pertahanan tubuh (seperti stress, perubahan cuaca, perubahan makanan, perubahan kandang, dan sebagainya) dan kondisi lingkungan yang dapat meningkatkan jumlah atau kekuatan penyakit (seperti kandang yang kotor, sanitasi yang buruk, lalu lintas ternak sakit atau pegawai kandang yang membawa penyakit, atau penularan penyakit dari luar). Khusus pada penyakit infeksius dalam rangka pencegahan penyakit senantiasa untuk menjalankan program biosecurity secara ketat dan vaksinasi secara teratur jika dibutuhkan.

Jika semua peternak mampu menerapkan langkah-langkah prinsip pencegahan penyakit seperti di atas maka tidak akan pernah terjadi kasus penyakit yang muncul berulang kali dalam satu periode produksi. Kalau pun pernah terjadi maka akan menjadi data yang akan dijadikan rujukan dalam menentukan kebijakan pencegahan penyakit di masa yang akan datang. Dengan penurunnya kejadian penyakit berarti tingkat produksi akan meningkat dan tentunya secara ekonomi akan meningkatkan keuntungan usaha.

Inseminasi Buatan

Inseminasi buatan adalah peletakan sperma ke follicle ovarian (intrafollicular), uterus (intrauterine), cervix (intracervical), atau tube fallopian (intratubal) wanita dengan menggunakan cara buatan dan bukan dengan kopulasi alami.

Teknik modern untuk inseminasi buatan pertama kali dikembangkan untuk industri ternak untuk membuat banyak sapi dihamili oleh seekor sapi jantan untuk meningkatkan produksi susu.

Dalam melakukan fertilisasi-in-virto transfer embrio (inseminasi buatan) dilakukan dalam tujuh tingkatan dasar yang dilakukan oleh petugas medis, yaitu :
1. Istri diberi obat pemicu ovulasi yang berfungsi untuk merangsang indung telur mengeluarkan sel telur yang diberikan setiap hari sejak permulaan haid dan baru dihentikan setelah sel-sel telurnya matang.
2. Pematangan sel-sel telur sipantau setiap hari melalui pemeriksaan darah Istri dan pemeriksaan ultrasonografi.
3. Pengambilan sel telur dilakukan dengan penusukan jarum (pungsi) melalui vagina dengan tuntunan ultrasonografi.
4. Setelah dikeluarkan beberapa sel telur, kemudian sel telur tersebut dibuahi dengan sel sperma suaminya yang telah diproses sebelumnya dan dipilih yang terbaik.
5. Sel telur dan sperma yang sudah dipertemukan di dalam tabung petri kemudian dibiakkan di dalam lemari pengeram. Pemantauan dilakukan 18-20 jam kemudian dan keesokan harinya diharapkan sudah terjadi pembuahan sel
6. Embrio yang berada dalam tingkat pembelahan sel ini. Kemudian diimplantasikan ke dalam rahim istri. Pada periode ini tinggal menunggu terjadinya kehamilan.
7. Jika dalam waktu 14 hari setelah embrio diimplantasikan tidak terjadi menstruasi, dilakukan pemeriksaan air kemih untuk kehamilan, dan seminggu kemudian dipastikan dengan pemeriksaan ultrasonografi.

Jadi tak bisa dilakukan sembarangan oleh pihak non medis.

Adapun mengenai sperma, didalam ovarium (rahim) sperma dapat bertahan hidup hingga 3-5 hari, namun diluar ovarium, sperma hanya dapat hidup beberapa jam namun sperma bisa bertahan hidup lama bila dibungkus dalam gliserol yang dibenamkan dalam cairan nitrogen pada temperatur -321 derajat Fahrenheit. Dari keterangan tersebut sangat sulit untuk mengawetkan sperma untuk jangka waktu lama.

Jumat, 18 Juni 2010

TUJUAN PEMAKAIAN, GOLONGAN DAN KLASIFIKASI OBAT HEWAN

Obat hewan menurut tujuan pemakaiannya digunakan untuk:

a. menetapkan diagnosa, mencegah, menyembuhkan dan
    memberantas penyakit hewan;
b. mengurangi dan menghilangkan gejala penyakit hewan;
c. membantu menenangkan, mematirasakan, etanasiadan
    merangsang hewan;
d. mengilangkan kelainanatau memperelok tubuh hewan;
e. memacu perbaikan mutu dan produksi hasil hewan;
f. memperbaiki reproduksi hewan.

Obat hewan digolongkan dalam sediaan biologik, farmasetik dan premiks.
Selain golongan obat hewan terdapat pula golongan obat alami ..
Sediaan biologic dihasilkan melalui proses biologic pada hewan  atau jaringan hewan untuk menimbulkan    kekebalan  mendiagnosa kekebalan mendiagnosa suatu penyakit atau menyembuhkan penyakit dengan proses imunologi 
Sediaan farmasetik sebagaimana dimaksud dalam meliputi antara lain vitamin, hormon, antibiotika dan         kemoterapetika lainnya, obat antihistaminika, antipiretika, anestetikayang dipakai berdasarkan daya kerja farmakologi.
Sediaan premiks meliputi imbuhan makanan hewan dan pelengkap makanan hewan yang dicampurkan pada makanan hewan atau minuman hewan.

Berdasarkan klasifikasi bahaya yang ditimbulkan
dalam pemakaiannya, obat hewan dibagi menjadi :

a. Obat keras, yaitu obat hewan yang bilapemakaiannya tidak sesuai dengan ketentuan dapat menimbulkan bahaya bagi hewan dan/atau manusia yang mengkonsumsi hasil hewan tersebut. b. Obat bebas terbatas, yaitu obat keras untuk hewan yang diperlakukan sebagai obat bebas untuk jenis hewan tertentu dengan ketentuan disediakan dalam jumlah, aturan doosis, bentuk sediaan dan cara pemakaian tertentu serta diberi tanda peringatan khusus. c. Obat bebas yaitu obat hewan yang dapat dipakai secara bebas oleh setiap orang pada hewan. 

(1) Pemakaian obat keras harus dilakukan oleh dokter hewan atau orang lain dengan petunjuk dari dan di bawah pengawasan dokter hewan. (2) Pemakaian obat bebas terbatas atau obat bebas dilakukan oleh setiap orang dengan mengikuti petunjuk pemakaian yang telah ditetapkan

Tubercollosis Pada Sapi

Tuberkulosis (TBC) adalah penyakit serius pada hewan berdarah panas yang timbul dari infeksi oleh organisme jenis Mycobacterium tuberculosis (MTB) yang kompleks. Ini adalah sekelompok bakteri yang berkaitan erat, dengan :

* The Mycobacterium bovis (bertanggung jawab untuk TB pada sapi dan mamalia lain)

* M. tuberkulosis (agen utama TB pada manusia)

* M. bovis - BCG (sebuah galur M. bovis dilemahkan digunakan sebagai vaksin melawan tuberkulosis  pada manusia)

 Ada bakteri lain yang kadang-kadang menyebabkan TBC pada manusia dan hewan. MTB yang kompleks dan terdiri dari 80 spesies yang berbeda, yang dikenal sebagai Mycobacteriaceae.

Banyak bakteri ini tidak berbahaya bagi hewan dan manusia, tapi ada pula yang bertanggung jawab atas penyakit seperti penyakit kusta pada manusia, Johne di ruminansia dan tuberkulosis burung).

Sapi, kerbau dan banteng merupakan tuan rumah alami M. bovis, tapi hampir semua hewan berdarah panas rentan terhadap infeksi. Bahkan, dibandingkan dengan bakteri lainnya kompleks terhadap MTB, M. bovis memiliki rentang yang sangat luas host hewan. Ini menyulitkan kontrol tuberkulosis sapi, terutama ketika infeksi menjadi mandiri dalam satwa liar, yang pada gilirannya dapat menjadi wabah M. bovis hewan peliharaan.

Manusia terinfeksi dengan M. juga dapat menyebabkan bovis TB secara klinis dan patologi yang membedakannya adalah yang disebabkan oleh bakteri  M. TB. Tubercollosis menulari manusia  dari infeksi dengan M. TBC biasanya menyebar dari orang ke orang melalui udara dengan bersin atau batuk. Risiko sapi TB di Britania orang dianggap sangat rendah. Saat ini, kurang dari 1% dari semua kasus TB dikonfirmasikan pada manusia yang disebabkan infeksi oleh M. bovis. Hal ini mirip dengan situasi yang dilaporkan pada sebagian besar negara-negara maju.


Informasi sementara sampai saat ini bahwa kemungkinan manusia yang menderita Tubercollosis sedikit kemungkinan tertular dari  M. bovis. Silahkan hubungi dinas terkait untuk mendapatkan penjelasan lebih lanjut.

Final exam speech please help make it better and longer?

Final exam speech please help make it better and longer?

Kamis, 17 Juni 2010

Teknik Dasar Diagnosa Penyakit Ternak (Pragnosa)

Dalam ilmu kesehatan hewan, menentukan apakah ternak itu sakit atau tidak ditentukan dengan melakukan beberapa pemeriksaan.
 Pragnosa.
Pragnosa adalah dugaaan sementara atas suatu tindakan pemeriksaan awal yang dilakukan melalui prosedur yang telah ditetapkan sesuai dengan tujuan pemeriksaan.
Dugaan sementara merupakan langkah awal dan merupakan perkiraan awal yang sangat vital untuk pemeriksaan selanjutnya, sehingga diperlukan ketelitian, pemahaman dan prosedur pemeriksaan yang benar.
Pada postingan kali ini masalah pragnosa ini menjadi materi pokok yang saya tulis berdasarkan beberapa literatur, pengalaman dilapangan dan merupakan materi ajar pada sekolah formal.

Pemeriksaan berdasarkan Performence (Tingkah laku Ternak)*
Untuk mendapatkan data kesehatan seekor ternak gampang-gampang sulit bila dibandingkan dengan pemeriksaan kesehatan pada manusia. Pada manusia seorang tenaga medis untuk mendapatkan dugaan sementara dapat menvcari informasi kepada fasien dengan melakukan pertanyaan. contoh kapan mulai merasakan gejala penyakit, apakah merasakan lemah, lesu dll. Sedangkan pada ternak hal ini tidak dapat dilakukan mau nanya siapa? ternak? o o o o o... hehe...kita hanya bisa mengambil recording/catatan manajemen tentang ternak tersebut kalau memang ada recording, tetapi berapa persen peternak mencatat tentang riwayat ternaknya walaupun Dinas terkait sudah berkoar-koar mereklamekan agar peternak melakukan pencatat tentang ternaknya? apa mau dikata tugas para medis di dunia peternakan bertambah prosedur pragnosa untuk mendapatkan catatan sejarah ternak yang menjadi pasiennya....kacian yaaaa tapi asli para medis dunia hewan pinter pinter........???...

Saya mulai aja ....nanti jadi lupa mumpung lagi ngejosss calkulator dikepala...

Pemeriksaan Dengan Melihat*
Periksa tingkah laku ternak dengan cara mengamati, mulai dari gerakan bagian kepala, leher, badan, ekor, gerakan kelenjar kelamin, kelenjar getah bening bengkak apa ndak dibeberapa bagian tubuh seperti lipatan paha bagian dalam dan lain-lain. Pemeriksa apakah ternak berjalan dengan normal apa tidak.
Catat dalam buku riwayat pemeriksaan dengan cermat dan teliti karena ini adalah langkah awal yang sangat menentukan berhasil tidak membuat suatu Diagnosa penyakit. (Lain kali saya bahas masalah ini lebih rinci).

Pemeriksaan dengan Meraba
Tahap selanjutnya dalam proses pragnosa adalah melakukan pemeriksaan dengan metode meraba, alat yang dipakai Allah/tuhan yang Maha Kuasa menciptkan Tangan.
Prosedurnya : * lakukan perabaan pada sekujur tubuh ternak dan catat adanya perubahan pada kondisi badan seperti adanya penonjolan lymphoglandula/kelenjar getah bening pada titik-titik tertentu seperti contoh lympoglandulla cervicalis( kelenjar getah bening pada leher).

Pemeriksaan dengan Memukul*
Aiiittttttt, jangan pakai pentungan polisi donk tambah parah ntar....hehehe guyon karena blok ini bukan perpustakaan ditempat kuliahan atau sekolah yang selalu menegangkan..... biar tidak bosen yahhhh.

Pemeriksaan dengan Mendengar*

Diagnosa dan Proses selanjutnya sampai tindakan Pengobatan*