Jumat, 09 Juli 2010

Mengobati Penyakit Scabies pada Ternak secara Alami

Penyakit secabies merupakan salah satu jenis penyakit ternak yang menyerang bagian kulit yang cukup meresahkan bagi peternak di seluruh wilayah. Danpak kerugian ekonomis cukup tinggi walaupun angka mortalitas kecil tapi tingkat kesakitan cukup tinggi.

Gejala Penyakit :

Secara umum ternak yang menderita penyakit ini menunjukkan kejala yang paling menonjol/spesifik adalah adanya keropeng pada kulit, ternak menggarukkan tubuhnya pada ranting kayu, batang pohon sampai berdarah.Kropeng pada kulit ditingkat yang cukup parah bisa sampai kedaerah kepala seperti mulut dan hidung.

Pengobatan secara alami

Bahan-bahan
- Belerang 20 gram
- Kunyit 400 gram
- Minyak kelapa 200 ml

Cara membuat :

- Kunyit di parut tanpa dikuliti cukup dibersihkan sampai bersih dan sisa tanah yang menempel hilang.
- Tuangkan minyak kelapa dalam wajan
- Masukkan parutan kunyit dalam wajan yang berisi minyak
- Masukkan bubuk belerang/sulfur kedalam wajan yang ada parutan kunyit dan minyak kelapa
- Aduk hingga bener-bener rata dan belerang hancur semua.
- Didihkan/goreng semua bahan dengan apa sedang supaya tidak gosong.
- Setelah mendidih dan keluar bau belerangnya turunkan dan dinginkan

Cara Menggunakan


  1. Mandikan Ternak dengan menggunakan antiseptik atau desinfectan contoh Rodalon dll dan bersihkan kropeng yang ada sampai bersih.
  2. Setelah ternak bersih gunakan alas tangan dan gosokkan campuran belerang tadi ketubuh ternak yang sakit sampai rata
  3. Lakukan pengobatan 1 x sehari. sampai ternak sembuh.
Catatan:
- Gejala penyakit dan diagnosa secara lengkap akan diposting dengan label PHM
- Bila ada keluhan berikan komentar dan tinggalkan alamat email anda, saya akan berusaha membantu sebisa dan sebatas ilmu yang saya punya. terimakasih semoga bermanfaat.

Rabu, 30 Juni 2010

OBAT ALAMI UNTUK HEWAN

Pengertian -Pengertian Istilah :


1. Obat alami untuk hewan yang selanjutnya disebut obat alami adalah bahan atau ramuan bahan alami yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewan,bahan mineral, sediaan galenik atau campuran dari bahan-bahan tersebut yang digunakan sebagai obat hewan. 2. Obat hewan adalah obat yang khusus dipakai untuk hewan. 3. Sediaan Galenik adalah hasil ekstraksi bahan atau campuran bahan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan dan atau hewan. 4. Simplisia adalah bahan alamiah yang dipergunakan sebagai obat hewan yang belum engalami pengolahan apapun juga, kecuali yang dinyatakan lain berupa bahan yang dikeringkan. 5. Bahan Tambahan adalah zat yang tidak mempunyai efek farmakologik sebagai obat hewan yang ditambahkan pada obat alami untuk memantapkan dan meningkatkan mutu, mengawetkan dan memberi/memantapkan warna, rasa dan bau ataupun konsistensi. 6. Pembuatan adalah proses kegiatan pengolahan, pencampuran dan pengubahan bentuk bahan baku obat hewan menjadi obat hewan. 7. Penyediaan adalah proses kegiatan pengadaan dan/atau pemilikan dan/atau penguasaan dan/atau penyimpanan obat hewan di suatu tempat atau ruangan dengan maksud untuk diedarkan. 8. Peredaran adalah proses kegiatan yang berhubungan dengan perdagangan, pengangkutan dan penyerahan obat hewan. 9. Obat Alami Lisensi adalah obat alami asing yang diproduksi oleh suatu usaha produksi obat alami atas persetujuan dari perusahaan yang bersangkutan dengan memakai merek dan nama dagang perusahaan tersebut. 10. Obat Alami Impor adalah obat alami yang diproduksi oleh produsen obat alami di luar negeri. 11. Simplisia Impor adalah bahan alamiah yang dipergunakan sebagai obat hewan yang belum mengalami pengolahan apapun juga, kecuali yang dinyatakan lain berupa bahan yang dikeringkan asal impor. 12. Penandaan adalah tulisan dan atau gambar yang dicantumkan pada pembungkus wadah atau etiket dan brosur yang disertakan pada obat alami, yang memberikan informasi tentang obat alami tersebut. 13. Uji Obat Alami adalah uji toksisitas dan uji farmakodinamik eksperimental. 14. Uji Toksisitas dan Uji Farmakodinamik Eksperimental adalah pengujian pada hewan percobaan untuk memastikan khasiat dan toksisitas obat alami


BAHAN BAKU OBAT ALAMI UNTUK HEWAN

Bahan baku obat alami dapat berupa simplisia dan/atau sediaan galenik baik yang berasal dari dalam negeri maupun impor.
Bahan baku dan penggunaan bahan tambahan harus memenuhi ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Bentuk sediaan obat alami harus dipilih sesuai dengan sifat bahan baku dan tujuan penggunaannya, sehingga bentuk sediaan tersebut dapat memberikan keamanan, khasiat dan mutu yang tinggi.

(1) Komposisi obat alami tidak boleh lebih dari 10 (sepuluh) bahan baku yang mempunyai efek farmakologik. (2) Masing-masing bahan baku sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus diketahui keamanan dan khasiatnya. (3) Keamanan dan kebenaran khasiat ramuan harus telah dibuktikan dengan uji toksisitas dan uji farmakodinamik eksperimental pada hewan percobaan. (4) Obat alami tidak boleh mengandung bahan lain yang tidak tercantum dalam komposisi sebagaimana yang dilaporkan dalam permohonan pendaftaran

Selasa, 22 Juni 2010

Teknis Kesehatan Ternak (Pos1)

PENGENDALIAN PENYAKIT DAN TEKNIK DIAGNOSA PADA TERNAK

Pengendalian Penyakit
Pengendalian penyakit adalah usaha untuk melindungi ternak dan manusia melalui sistem pencegahan dan pengobatan terhadap gangguan penyakit baik yang bersifat menular maupun tidak menular.
Pengendalian penyakit hewan adalah upaya mengurangi hubungan antara penyebab penyakit sampai pada tingkat dimana hanya sedikit hewan yang sakit, karena jumlah penyebab penyakit telah dikurangi atau dimatikan. Hewan telah dilindungi atau penyebab penyakit pada hewan tersebut dapat dicegah. Dalam pemeliharaan ternak, salah satu penghambat yang sering dihadapi adalah penyakit. Bahkan tidak jarang peternak mengalami kerugian dan tidak lagi beternak akibat adanya kematian pada ternaknya. Upaya pengendalian penyakit pada hakekatnya bertujuan untuk meningkatkan pendapatan melalui cara pemeliharaan yang baik, sehingga peternak memperoleh pendapatan secara maksimal. Upaya pengendalian penyakit dapat dilakukan melalui usaha pencegahan penyakit dan atau pengobatan pada ternak yang sakit. Namun demikian usaha pencegahan dinilai lebih penting dibandingkan pengobatan. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam upaya pengendalian penyakit antara lain (a) menjaga kesehatan ternak, (b)mempertahankan penampilan ternak agar tetap baik, (c)memperhatikan komposisi bahan pakan, (d) Ketersediaan zat nutrisi yang baik dan seimbang dan (e) mengoptimalkan pemakaian limbah pertanian yang ada. Ukuran Keberhasilan Pengendalian Penyakit Untuk mengukur keberhasilan pengendalian penyakit dalam usaha peternakan maka peternak harus memperhatikan beberapa hal di bawah ini, yaitu:
1. Angka sakit (morbiditas), diukur dari banyak tidaknya jumlah ternak
    yang sakit.
2. Angka Kematian (mortalitas), diukur atau diamati oleh banyak
    tidaknya jumlah ternak yang mengalami kematian.
3. Angka kecelakaan atau kasus yang terjadi misalnya patah tulang,
    jatuh dll
4. Jumlah kelahiran ternak/tingkat reproduksi dicapai.
5. Pencapaian pertambahan bobot badan
6. Kejadian penyakit yang berulang dalam satu musim
7. Kerusakan karkas atau daging

Beberapa prinsip dasar yang harus dilakukan oleh peternak berkaitan
dengan program kesehatan ternak antara lain:
1. Mencegah timbulnya suatu organisme penyebab penyakit.
    Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mencegah munculnya bibit penyebab penyakit antara lain (
   a) melakukan sanitasi/kebersihan secara baik, benar dan teratur, 
   b) biasakan memisahkan ternak yang baru datang terlebih dahulu untuk beberapa saat, 
   c) menjaga lingkungan tetap baik dan 
  (d) jika perlu ternak yang sering sakit-sakitan dikeluarkan.

2. Menjaga agar ketahanan tubuh ternak tetap baik
    Beberapa hal yang dapat dilakukan antara lain 
    (a) jagalah kebutuhan pakan) untuk tetap baik, cukup dan  seimbang, (b) jika di daerah tersebut sering muncul penyakit menular, kontak dengan petugas setempat untuk diupayakan adanya vaksinasi, dan (c)biasakan melakukan program seleksi ternak secara baik dan teratur.
3. Mengurangi penyebaran penyakit
Beberapa hal yang dapat dilakukan ialah (a) jika ada ternak yang sakit harus segera dipisahkan, (b) segera lakukan pengamatan secara mendalam pada ternak-ternak yang lain apakah ada tandatanda sakit atau tidak misalnya tingkah laku ternak, tanda-tanda fisiknya, nafsu makan dan sebagainya, dan (c) jika perlu upayakan
pengobatan sementara. 4. Melakukan sistem pencatatan (produksi dan reproduksi) secara teratur 

Teknik Diagnosa Secara Fisik
Penyakit dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu penyakit menularn yang dapat menyebar dari satu ternak ke ternak lainnya dan penyakit tidak menular yaitu penyakit yang biasanya hanya terbatas pada satu kelompok tertentu atau bersifat individual. Berdasarkan agen penyebabnya, kelompok penyakit menular dibagi menjadi (a) kelompok penyakit viral yaitu penyakit yang disebabkan virus misalnya ND, Marek, Gumboro, PMK dan lain-lainnya, (b) kelompok penyakit bakterial yaitu penyakit yang disebabkan bakteris misalnya CRD, Snot, Pullorum, Brucellosis dan lain-lainnya, (c) kelompok penyakit Parasiter yaitu penyakit yang disebabkan parasit misalnya Coccidiosis, Ascariasis, Scabies dan lain-lainnya, dan (d) kelompok penyakit fungal yaitu penyakit yang disebabkan jamur misalnya Aspergillosis, Candidiasis dan lain-lainnya. 

Penyakit tidak menular, berdasarkan penyebabnya dapat dibagi menjadi (a) kelompok penyakit defisiensi, penyakit yang disebabkan karena kekurangan unsur dalam zat pakannya misalnya defisiensi vitamin, mineral dan lainnya, (b) kelompok penyakit intoksikasi, keracunan misalnya intoksikasi insektisida, pestisida dan lainnya, (c) penyakit metabolik, yang disebbkan adanya gangguan metabolik misalnya bloat atau kembung perut, (d) penyakit genetis, yang disebabkan keturunan misalnya osteodystropia da n (e) penyakit mekanis karena terkena benda-benda keras seperti fraktur, terjepit dan lainnya.
Diagnosa adalah suatu proses untuk menentukan dan mengamati perubahan yang terjadi pada ternak melalui tanda-tanda atau gejala yang terlihat sehingga suatu penyakit dapat diketahui penyebabnya. Untuk menghasilkan diagnosa yang baik diperlukan pengetahuan zooteknis peternakan, anatomi dan fisiologi yang baik. 
Ketepatan diagnosa tergantung pada (a) sejauhmana anamnese dilakukan secara baik, (b) gejala klinis yang nampak atau teramati, (c) pemeriksaan nekropsi, dan (d) kecepatan pemeriksaan laboratorium.
Definisi Hewan Sehat
Secara umum penyakit hewan adalah segala sesuatu yang menyebabkan hewan menjadi tidak sehat. Hewan sehat adalah hewan yang tidak sakit dengan ciri-ciri (a) bebas dari penyakit yang bersifat menular atau tidak menular, (b) tidak mengandung bahan-bahan yang merugikan manusia sebagai konsumen, dan (c) mampu berproduksi secara optimum. 
Salah satu bagian penting dalam penanganan kesehatan ternak adalah melakukan pengamatan terhadap ternak yang sakit melalui pemeriksaan ternak yang diduga sakit yaitu suatu proses untuk menentukan dan mengamati perubahan yang terjadi pada ternak atau hewan melalui tanda-tanda atau gejala fisik yang terlihat sehingga suatu penyakit dapat diketahui penyebabnya.

Senin, 21 Juni 2010

Pengobatan Tradisional Penyakit Ternak Kambing


Sebagian besar penduduk negara ini tentu tidak asing lagi mendengar hewan yang bernama kambing. Kambing memiliki pesona tersendiri bagi masyarakat kita, baunya yang khas membuat sebagian orang enggan mendekatinya namun dibalik itu semua hewan yang satu ini memiliki  kandungan protein yang bergizi tinggi. Hampir disetiap desa di penjuru negeri ini masyarakat kita memelihara kambing sebagai tabungan hidup yang sewaktu-waktu bisa di jual. Terlebih lagi menjelang hari yang sangat sakral bagi umat muslim (Hari Raya Qurban), kebutuhan akan ternak kambing sangat banyak dan terkadang kekurangan.
Berbagai permasalahan sering mengganggu kesehatan ternak kambing, baik itu serangan penyakit, gangguan pertumbuhan dan reproduksi hingga kematian kambing yang membuat peternak hanya mampu mengelus dada tanpa berbuat apa-apa. Selain keterbatasan pengetahuan tentang kesehatan ternak, peternak juga enggan mengobati ternaknya dengan alasan biaya pengobatannya relatif mahal, obatnya hanya ada di kota, jarangnya praktisi dokter hewan di desa dan berbagai alasan klasik lainnya. Untuk mengatasi permasalahan ini menuntut praktisi dokter hewan dan peternak sendiri lebih sedikit kreatif dalam mencari alternatif lain yakni menggunakan obat-obat tradisional yang terhampar luas di bumi nusantara yang kita cintai ini.
Beberapa penyakit yang sering menyerang ternak kambing dan dapat diobati secara tradisional diantaranya adalah sebagai berikut :
1. SCABIES (KUDIS)
Penyebab :
Parasit yang terdapat pada kotoran yang terjadi karena kandang kotor dan ternak tidak pernah dimandikan.
Tanda- tanda :
   - Kerak - kerak pada permukaan kulit
   - Ternak selalu menggesekan bagian kulit yang terserang kudis
- Kerontokan bulu, kulit menjadi tebal dan kaku
Pengobatan :
Cukur bulu sekitar daerah terserang, mandikan ternak dengan sabun sampai
bersih, kemudian jemur sampai kering. Setelah kering dapat diobati dengan
menggunakan:
   1. Belerang dihaluskan, dicampur kunyit dan minyak kelapa, kemudian
       dipanaskan dan digosokkan pada kulit yang sakit.
   2. Belerang dihaluskan dan dicampur dengan oli bekas dan digosok pada
       bagian kulit yang sakit.
   3. Kamper / kapur barus digerus, dicampur minyak kelapa dan dioleskan
       pada bagian kulit yang sakit.
Pencegahan :
   - Ternak yang berpenyakit kudis tidak boleh bercampur dengan ternak yang
     sehat.
   - Ternak yang baru dibeli harus bebas dari penyakit kudis
   - Mandikan ternak dua minggu sekali.
   - Bersihkan kandang seminggu sekali.

2. BELATUNGAN ( MYASIS )
Penyebab :
Luka daerah yang berdarah diinfeksi oleh lalat sehingga lalat berkembang
biak (bertelur) dan menghasilkan larva belatung.
Tanda-tanda :
   - Adanya belatung yang bergerak-gerak pada bagian yang luka
   - Bila belatungan pada kaki/teracak maka ternak terlihat pincang.
Pengobatan :
   - Bersihkan luka dari belatung, kemudian obati dengan gerusan
     kamper/kapur barus atau tembakau.
   - Luka dibungkus dengan kain/perban untuk melindungi dari terjadinya luka
     baru atau kotoran.
   - Pada hari berikutnya luka dibersihkan, pengobatan diulang dan dibungkus
     kembali. Biasanya dua atau tiga kali pengobatan sudah sembuh.
   - Bila belatung sudah terbasmi, pemberian yodium tinctur dapat dipakai
     untuk mempercepat pertumbuhan.
 3. CACINGAN
Penyebab :
Bermacam-macam cacing terjadi karena kandang yang kotor atau padang
pengembalaan yang kotor.
Tanda-tanda :
   - Kurus, bulu agak berdiri dan tidak mengkilap
   - Sembelit atau mencret
   - Lesu dan pucat
   - Daerah rahang terlihat membengkak
   - Mati mendadak
Pengobatan :
   1. Tepung buah pinang dicampur dengan nasi hangat dikepal-kepal
       kemudian dipaksakan untuk dimakan ternak. Ternak dianjurkan untuk
       dipuasakan terlebih dahulu.
   2. Daun kelor yang tua dibakar, kemudian debunya dicampur air dan
       diminumkan. Pengobatan diulangi satu minggu kemudian.
Pencegahan :
   - Kandang dibuat panggung dan bersih
   - Pengaritan rumput setelah panas yaitu pada jam 12.00-15.00 atau
     pengembalaan ternak pada siang hari jam 10.00-15.00.
   - Jangan menggembalakan ternak pada daerah rawa, sungai dan sawah.
 4. KERACUNAN TANAMAN
Penyebab :
   - Ternak memakan rumput-rumputan atau daun-daunan yang mengandung
     zat racun.
Tanda-tanda :
   - Mati mendadak, mulut berbusa, kebiruan pada selaput lendir,
     pengelupasan kulit/eksim atau terjadi pendarahan.
Pengobatan :
   - Cekoklah ternak dengan air kelapa muda.
Pencegahan :
- Tidak memberikan tanaman beracun atau menggembalakan ternak di
daerah yang banyak tumbuh tanaman yang mengandung racun.
Sumber :Lembar Informasi Pertanian (LIPTAN) LPTP Koya Barat, Irian Jaya

Metode Pemberian Obat Pada Ternak

Pemberian obat pada ternak dapat dilakukan dengan beberapa cara sesuai dengan tujuan dan jenis obat yang yang diberikan pada ternak.
Pembahasan saya kali ini mengenai pemberian obat dengan sistem Injection/suntik. Injection/penyuntikan adalah suatu metode/cara memasukkan obat-obatan pada tubuh ternak dengan tujuan untuk memberikan tindakan pengobatan/pencegahan dan vaksinasi agar lebih cepat mencapai sasaran yang diinginkan. Keuntungan pengobatan dengan sistem injection/suntik adalah obat langsung mencapai sasaran pada daerah yang mengalami sakit/sasaran yang ingin dicapai sesuai dengan tujuan injection itu dilakukan, efisiensi penggunaan obat karena kemungkinan untuk terbuang sedikit sekali. Kekurangan sistem ini adalah, apabila dilakukan oleh tenaga yang tidak profesional/tidak memahami bagaimana teknik menyuntik yang baik dan sesuai dengan aturan ilmu kesehatan, alat suntik yang tidak steril dapat menyebabkan penularan penyakit tertentu dengan lebih cepat sehingga diperlukan alat suntik yang benar-benar steril sebelum melakukan penyuntikan. 
Metode Penyuntikan pada intinya sebagai berikut.
  1. Injektion Intra Musculer (Obat dimasukkan kedalam tubuh ternak melalui otot tubuh).
  2. Injection Intra Cutan ( Pemberian obat melalui penyuntikan didalam rongga kulit/Intra dermal)
  3. Injection Intra Vena ( Pemberian obat melalui pembuluh darah)
  4. Injection Sub Cutan ( Pemberian obat dibawah rongga kulit/sub cutan)
  5. Injection Intra Mamae (Pemberian obat melalui lubang puting susu)
  6. dan metode-metode lain sesuai dengan tujuan dan lokasi penyuntikan dengan penamaan..Didalam/bawah.....lokasi penyuntikan.

Sabtu, 19 Juni 2010

Manajemen Biaya Produksi Kesehatan Ternak

Komponen biaya produksi biaya pencegahan dan pengobatan penyakit sekitar 6% dari total biaya produksi, tetapi dampak yang ditimbulkannya pada saat akan panen produksinya dapat berpengaruh mencapai 60% bahkan hingga 80%. Oleh karena itu, manajemen kesehatan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam sistem usaha ternak.

Kerugian-kerugian ekonomi akibat ketidakfahaman manajemen kesehatan ternak meliputi :

(a) gangguan pertumbuhan (pertambahan bobot badan harian rendah)

(b) dewasa kelamin atau umur beranak pertama terlambat

(c) daya reproduksi terganggu

(d) efisiensi pakan rendah, dan

(e) kematian ternak.

Di dalam ilmu kesehatan selalu ada keterikatan antara 3 faktor yaitu tubuh (ternak), agen penyakit (mikroorganisme dan parasit), dan lingkungan (pemelihara, ternak lainnya, makan dan minuman, kandang, dan iklim). Apabila ketiga faktor tersebut dalam posisi seimbang maka tubuh (hewan) tersebut dikatakan sehat (tidak menunjukkan gejala sakit). Jadi sehat itu bukan berarti di dalam tubuhnya tidak ada penyakit, tetapi tubuh (pertahanan tubuh) mampu menetralisir penyakit tersebut sehingga tidak menunjukkan gejala penyakit. Gangguan atau perubahan pada salah satu faktor di atas akan menimbulkan gejala suatu penyakit, sehingga akan terjadi sakit. Dari ketiga faktor tersebut yang paling penting adalah pengendalian faktor lingkungan, karena perubahan lingkungan ke arah yang buruk akan meningkatkan kuantitas dan kualitas penyakit serta penurunan ketahanan tubuh.

Jumlah atau daya infeksi yang meningkat dari sebuah penyakit, sedangkan kondisi tubuh tetap, akan menimbulkan gejala penyakit karena pertahanan tubuh tersebut tidak mampu melawan peningkatan kuantitas dan kualitas penyakit. Sebaliknya, meskipun jumlah penyakit tidak meningkat tetapi pertahanan tubuh menurun, juga akan menimbulkan munculnya gejala penyakit. Peningkatan jumlah dan kekuatan penyakit serta penurunan pertahanan/kekebalan tubuh sangat dipengaruhi oleh lingkungan. Lingkungan yang kotor akan memudahkan peningkatan jumlah bibit penyakit. Perubahan iklim, perubahan tempat tinggal, dan adanya rangsangan dari luar akan menyebabkan hewan stress yang menyebabkan hewan mengalami penurunan ketahanan tubuh. Kondisi tersebut akan menyebabkan hewan sakit.

Dari pengertian di atas kita dapat menyimpulkan bahwa manajemen dan pengendalian kandang, orang yang berinteraksi (seperti pegawai kandang atau pemilik), hewan lain yang ada di kandang, pakan dan minuman, serta iklim merupakan langkah penting dalam pengendalian kesehatan ternak. Tindakan pengendalian faktor lingkungan biasa disebut dengan istilah biosecurity.

Sebuah contoh kasus pertanyaan tentang kembung bisa kita bahas secara singkat. Kita asumsikan bahwa dalam hal penanganan ternak yang kembung semua peternak sudah mampu menangani. Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah bagaimana pencegahan kembung. Seperti penjelasan di atas bahwa jika menemukan satu kasus penyakit maka kita harus menelusurinya dari ketiga faktor di atas, yaitu : tubuh (ternak), penyakit, dan lingkungan.

Sebagai mana kita ketahui bahwa kembung adalah sebuah gangguan metabolisme di dalam tubuh, yaitu kelebihan gas di dalam lambung. Jika kita berbicara gangguan metabolisme berarti yang paling berpengaruh adalah makanan (lingkungan). Jadi yang perlu ditelusuri adalah lingkungan dalam hal ini makanan. Apa yang dimakan ternak sebelum terjadi kembung? Ada bahan apa di dalam makanan yang menyebabkan kembung? Pada kondisi bagaimana bahan tersebut bisa muncul? Bagaimana perlakuan kita terhadap makanan agar bahan penyebab kembung tersebut hilang atau berkurang sehingga tidak menyebabkan kembung?.

Pertanyaan-pertanyaan di atas akan menuntun kita melakukan langkah-langkah pencegahan. Misalnya yang dimakan ternak adalah rumput atau hijauan. Bahan yang ada di dalam hijauan yang menyebabkan kembung adalah gas. Gas tersebut akan diproduksi dalam jumlah banyak apabila hijauan masih berumur muda dan kandungan airnya tinggi atau hijauan dalam keadaan basah. Kandungan air yang tinggi akan memproduksi gas dalam jumlah banyak sehingga gas di dalam lambung meningkat dari kapasitas normalnya. Ada juga hijauan yang mengandung gas berbahaya tertentu seperti gas sianida pada daun singkong. Untuk mengurangi gas berarti harus mengurangi kadar air atau mengurangi kandungan gas berbahaya.

Langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi atau menghilangkan gas penyebab kembung adalah tidak memberikan langsung hijauan yang basah atau mengandung gas tertentu. Cara mengurangi atau menghilangkan gas tersebut bisa dengan cara dilayukan (dijemur) sampai kering agar kadar airnya menurun. Bisa juga dengan cara mencacah atau memotong-motong hijauan yang akan diberikan. Dengan langkah tersebut air atau gas berbahaya akan menguap dan berkurang, yang pada akhirnya akan mengurangi penimbunan gas di dalam lambung. Dengan langkah tersebut akan terhindar dari kemungkinan terjadinya kembung karena gas yang ada di lambung masih dalam tingkat kemampuan lambung untuk menampungnya dan akan dikeluarkan secara alami sedikit-demi sedekit.

Contoh tersebut bisa diterapkan pada kasus-kasus penyakit lainnya, baik penyakit infeksius (yang disebabkan oleh mikroorganisme) atau penyakit gangguan metabolisme. Jika penyakit infeksius yang terjadi, maka lingkungan yang perlu ditelusuri adalah kondisi lingkungan yang bisa menurunkan pertahanan tubuh (seperti stress, perubahan cuaca, perubahan makanan, perubahan kandang, dan sebagainya) dan kondisi lingkungan yang dapat meningkatkan jumlah atau kekuatan penyakit (seperti kandang yang kotor, sanitasi yang buruk, lalu lintas ternak sakit atau pegawai kandang yang membawa penyakit, atau penularan penyakit dari luar). Khusus pada penyakit infeksius dalam rangka pencegahan penyakit senantiasa untuk menjalankan program biosecurity secara ketat dan vaksinasi secara teratur jika dibutuhkan.

Jika semua peternak mampu menerapkan langkah-langkah prinsip pencegahan penyakit seperti di atas maka tidak akan pernah terjadi kasus penyakit yang muncul berulang kali dalam satu periode produksi. Kalau pun pernah terjadi maka akan menjadi data yang akan dijadikan rujukan dalam menentukan kebijakan pencegahan penyakit di masa yang akan datang. Dengan penurunnya kejadian penyakit berarti tingkat produksi akan meningkat dan tentunya secara ekonomi akan meningkatkan keuntungan usaha.

Inseminasi Buatan

Inseminasi buatan adalah peletakan sperma ke follicle ovarian (intrafollicular), uterus (intrauterine), cervix (intracervical), atau tube fallopian (intratubal) wanita dengan menggunakan cara buatan dan bukan dengan kopulasi alami.

Teknik modern untuk inseminasi buatan pertama kali dikembangkan untuk industri ternak untuk membuat banyak sapi dihamili oleh seekor sapi jantan untuk meningkatkan produksi susu.

Dalam melakukan fertilisasi-in-virto transfer embrio (inseminasi buatan) dilakukan dalam tujuh tingkatan dasar yang dilakukan oleh petugas medis, yaitu :
1. Istri diberi obat pemicu ovulasi yang berfungsi untuk merangsang indung telur mengeluarkan sel telur yang diberikan setiap hari sejak permulaan haid dan baru dihentikan setelah sel-sel telurnya matang.
2. Pematangan sel-sel telur sipantau setiap hari melalui pemeriksaan darah Istri dan pemeriksaan ultrasonografi.
3. Pengambilan sel telur dilakukan dengan penusukan jarum (pungsi) melalui vagina dengan tuntunan ultrasonografi.
4. Setelah dikeluarkan beberapa sel telur, kemudian sel telur tersebut dibuahi dengan sel sperma suaminya yang telah diproses sebelumnya dan dipilih yang terbaik.
5. Sel telur dan sperma yang sudah dipertemukan di dalam tabung petri kemudian dibiakkan di dalam lemari pengeram. Pemantauan dilakukan 18-20 jam kemudian dan keesokan harinya diharapkan sudah terjadi pembuahan sel
6. Embrio yang berada dalam tingkat pembelahan sel ini. Kemudian diimplantasikan ke dalam rahim istri. Pada periode ini tinggal menunggu terjadinya kehamilan.
7. Jika dalam waktu 14 hari setelah embrio diimplantasikan tidak terjadi menstruasi, dilakukan pemeriksaan air kemih untuk kehamilan, dan seminggu kemudian dipastikan dengan pemeriksaan ultrasonografi.

Jadi tak bisa dilakukan sembarangan oleh pihak non medis.

Adapun mengenai sperma, didalam ovarium (rahim) sperma dapat bertahan hidup hingga 3-5 hari, namun diluar ovarium, sperma hanya dapat hidup beberapa jam namun sperma bisa bertahan hidup lama bila dibungkus dalam gliserol yang dibenamkan dalam cairan nitrogen pada temperatur -321 derajat Fahrenheit. Dari keterangan tersebut sangat sulit untuk mengawetkan sperma untuk jangka waktu lama.